Sebab Sedih

Pernah merasa sedih tanpa tau apa sebabnya?

Pernah terpikir mungkin disaat itu ada orang lain yang sedang menangis karena saya?

Pernah terpikir mungkin alam semesta ini menghubungkan hati manusia dengan cara tersendiri?

Pernah terpikir mungkin itu adalah tanda bahwa emosi bisa tersampaikan meski tanpa bahasa?

Bahwa perasaan yang sangat kuat bisa menembus ruang dan waktu bahkan alam bawah sadar.

Karena kita terhubung oleh perasaan.

Dan pantaslah kamu merasa sedih saat ini tanpa tau apa sebabnya.

Advertisements

Hati VS Otak

Malam ini hati dan otak sedang bertengkar. 

Mereka berdebat hingga membuat kantuk enggan datang.

Masalahnya hanya karena hal kecil. Yaitu WAKTU.

Otak minta semua harus dihentikan sekarang.

Tapi hati bilang tidak. Hati masih butuh waktu untuk meyakinkan, apakah semua akan seperti harapannya atau tidak?

Dan perdebatan tak kunjung usai. 

Sampai akhirnya otak (lagi-lagi) harus mengalah. Karena hati (lagi-lagi) tak dapat menahan keinginannya.

Pergi

Mungkin lebih baik menghindar daripada menahan diri. 

Mungkin lebih baik pergi daripada sakit hati. 

Karena yang lebih menyakitkan adalah menerima keadaan meski tau harusnya tak begini.

Selamat Malam Rindu

Selamat malam rindu..

Mengapa kau hadir kembali malam ini?

Disaat aku berusaha melupakan semua.

Selamat malam rindu..

Hanya karena sebuah lagu mendadak kau muncul dan mengganggu.

Membuat perasaanku menjadi kelabu.

Selamat malam rindu..

Jangan hanya datang padaku.

Mampirlah sejenak dan menyapa dia.

Selamat malam rindu..

Yang tak pernah lelah menemaniku.

 

 

 

 

Tentang Mimpi

Katanya apa yang kita pikirkan dalam-dalam akan menjadi mimpi di waktu malam.

Itukah sebabnya, ada cerita tentang kita dalam tidur yang panjang.

Seolah semua imajinasi dihadirkan dalam bunga tidur semalam.

Begitu nyatanya, berbanding dengan kenyataan.

Sampai aku terus berpikir dan bertanya.

Dapatkah mimpi direstorasi?

 

Sembunyi

Saat itu hujan turun.

Ada rasa syahdu tercipta, bukan dingin penyebabnya.

Melainkan jarak diantara kita.

“Jadi kamu harus sembunyi?” tanyamu sekali lagi.

Aku hanya diam.

Bisakah itu dianggap sebagai jawaban?

Karena aku takut merasakannya kembali.