Sepenggal Cerita Dari Mata

Ada kecanggungan yang tercipta saat sepasang mata bertemu. 

Bukan karena tajamnya tatapan itu.

Tapi karena kulihat bayanganku dalam ceruk hitam yang memandang sendu. 

Dan binar indah itu sedang menatap dengan senyum hangat.

Karena ia telah menemukanku. 

Advertisements

Malu Bertanya Sesat Di Jalan..

Entah kenapa makin banyak orang yang merasa lebih tau dibandingkan orang lain. Merasa lebih tau segalanya. Bahkan — yang anehnya — merasa lebih tau sebuah cerita dibandingkan orang yang mengalaminya sendiri. Sungguh ajaib.

Saya sempat mengalaminya. Tiba-tiba saja ada orang yang merasa sangat tau tentang kehidupan saya, tentang isi Twitter saya, tentang status BBM saya, dll. Aneh banget. Padahal orang itu bahkan tidak pernah sekalipun bertanya pada saya. (Jangan-jangan dia cenayang yah?) Dan lucunya, persepsi dia tentang kehidupan atau isi Twitter atau status BBM saya itu SALAH. Tapi tetap saja dia main menyimpulkan sendiri tanpa sekalipun bertanya langsung kepada saya.

Tidak tau kenapa hal seperti itu terjadi. Apakah sesusah itu bertanya kepada orang tentang kejadian yang sebenarnya? Apakah ‘main hakim’ sendiri dengan pemikiran dan lantas menyebarkan hal itu menjadi suatu hal yang sah-sah saja? Dan masih banyak pemikiran tentang itu yang menimbulkan pertanyaan di benak saya. Jujur, saya tidak mengerti.

Saya yakin pepatah ‘malu bertanya sesat di jalan’ diciptakan berdasarkan suatu kejadian. Dan seharusnya orang-orang mengerti maksud pepatah itu. Secara harafiah pepatah itu berarti ‘kalau tidak tau jalan jangan diam saja, mendingan tanya sama orang’. Tapi pepatah itu juga bisa berarti ‘jangan tersesat di dalam pemikiran sendiri, sebaiknya bertanya kepada orang lain supaya tidak salah’. Sayangnya sebagian besar orang memilih diam, entah malu atau gengsi, tapi lebih baik menyimpulkan sendiri.

Berpikir itu adalah hak setiap orang. Sah-sah saja punya pemikiran positif/negatif. Tapi kalau pemikirannya itu sudah merugikan orang lain, apa tidak sebaiknya diluruskan dulu. Supaya tidak salah konteks.

Dan diakhir tulisan ini saya ingin mengutip sebuah quote: “Every single person on the planet has a story. Don’t judge people before you truly know them. The truth might surprise you.”

Bahagia Itu Sederhana

Saat saya bangun tidur dan membaca pesan singkat di layar blackberry..
Saat saya berhasil melawan rasa malas dan mulai memasak lagi..
Saat saya bisa makan hasil masakan sendiri..
Saat saya selesai membereskan apartemen dan puas melihat hasilnya..
Saat saya menemukan benda-benda yang sudah lama hilang entah kemana..
Saat saya diberi kesempatan untuk bertemu sahabat lama..
Saat saya melihat raut bahagia orang lain hanya karena hal kecil yang saya lakukan..
Saat saya bisa punya waktu untuk keluarga..
Saat saya dikelilingi orang-orang yang sayang sama saya..

Bahagia itu sederhana..
Sesederhana menjalani hidup ini..

Tempat Tidur Idaman

Setelah duapuluh satu jam bekerja akhirnya saya kembali ke rumah. Mata rasanya sepet maksimal. Badan sudah tidak kompak. Tulang kaki dan punggung teriak-teriak minta diselonjorkan. Sementara saya masih harus membelah jalanan ibu kota. Menyetir di tengah kemacetan Jakarta.

Sementara mata nanar menatap mobil-mobil yang super padat, pikiran saya pun melayang entah kemana. Terbayang sebuah kasur empuk yang pernah saya lihat di pameran. Body nya dari kayu yang di cat hitam. Kasurnya punya kemampuan ekstra, bisa meluruskan tulang punggung. Dan semua nya dilapisi kain yang super lembut dan licin, sampai rasanya bisa terpleset disana. Belum lagi bantal dari bulu angsa. Mungkin semenit rebahan langsung terlelap.

Terbayang saat pulang kerja tempat tidur itu sudah menunggu saya di kamar. Semua lelah karena bekerja pasti terbayar lunas. Tapi sementara ini tempat tidur itu hanya impian. Harga tujuhbelas juta tampak kurang masuk akal untuk sebuah tempat tidur. Sekarang cukup puas saja dengan tempat tidur yang ada di kamar saya. Spring bed biasa pemberian Mama.

Setelah perjuangan panjang akhirnya saya sampai juga. Dengan malas melangkah ke apartemen tempat saya tinggal. Membuka kunci dengan ogah-ogahan, dan melangkah masuk ke dalam. Masuk ke kamar dan melihat tempat tidur yang (untungnya) masih rapi. Masih terbayang di mata tempat tidur impian. Andai ada di kamar saat ini, pasti saya sudah loncat dan mendarat dengan indah di tempat tidur. Kemudian bolak-balik salto kayang menikmati belaian kain yg lembut.

Sebelum tidur saya mandi air hangat. Kemudian menyalakan ac dan mematikan lampu kamar. Temu kangen lah dengan tempat tidur saya. Tiba-tiba saya merasakan perasaan aneh yang luar biasa. Seperti berjumpa dengan kekasih di hari Sabtu. Perasaan itu juga yang saya rasakan saat merebahkan diri di tempat tidur ini.

Memang tempat tidur ini tidak spesial. Hanya spring bed biasa yang beberapa besinya sudah menonjol keluar, sehingga membuat saya harus bolak-balik mencari posisi enak. Tidak ada yang istimewa sama sekali. Namun tempat tidur ini membuat istirahat saya sempurna. Saya toh tetap bisa tidur enak dan bangun dengan badan sehat.

Saya memejamkan mata, menikmati rasa hangat yang ada di dada. Saya bersyukur masih bisa tidur dengan layak di tempat tidur sederhana ini. Saya bersyukur masih diberi fasilitas yang luar biasa ini. Dan saya bersyukur ketika tidur, saya masih diberi kesempatan untuk bangun kembali oleh Sang Empunya Nyawa ini.

Bersyukur..

Saya bersyukur lahir kedunia ini dengan sehat dan sempurna..
Saya bersyukur memiliki keluarga yang bahagia..
Saya bersyukur masa kecil saya menyenangkan..
Saya bersyukur bisa lulus SD, SMP, SMU, dan kuliah dengan baik..
Saya bersyukur memiliki teman-teman yang selalu ada bersama saya..
Saya bersyukur mendapatkan pekerjaan yang saya inginkan..
Saya bersyukur memiliki seorang suami yang mencintai saya apa adanya..
Saya bersyukur untuk semua pengalaman yang saya dapatkan di dalam hidup ini..
Saya bersyukur diberi kesempatan oleh Sang Pencipta untuk merasakan hidup, bernafas, dan menjejakkan kaki saya di dunia ini..

Kangen Pantai..

Sudah dua minggu ini saya kangen pantai. Saya kangen duduk-duduk di pasir yang hangat, memandang ombak, melihat buih-buih di tepian, merasakan air membelai kaki saya, dan melihat matahari turun ke peraduannya.

Saya kangen pantai dan perasaan tenang yang saya dapatkan disana. Saya kangen berenang melawan arus, melihat ikan-ikan kecil di bawah sana, merasakan air yang asin tak sengaja masuk ke mulut, dan sesekali mengapung hingga ombak membawa saya tak tentu arah.

Saya kangen pantai dan rasa ini tak dapat terbendung. Saya kangen bermain di bawah teriknya matahari, tak perduli kulit saya semakin kelam. Saya kangen bau laut yang tercium samar disaat menikmati sekaleng bir dingin di tepian pantai. Dan rasa kangen ini tak kunjung menghilang. Saya kangen pantai..

Opung..

Entah kenapa saya paling males disuruh datang arisan keluarga. Males basa-basi,males ditanyain macem-macem,dsb. Dari beberapa hari kemarin mama sudah wanti-wanti menyuruh saya datang ke arisan keluarga besar di rumah opung. Ada saja alasan yang saya utarakan. Pulang kerja pagi, ada acara dengan keluarga suami, pengen istirahat di rumah, dll. Tapi tiba-tiba saat saya bangun pukul 5 sore tadi entah kenapa saya kepikiran untuk datang ke arisan.

Dan keputusan saya tidak salah. Saya bertemu dengan opung saya yang berusia 84 tahun. Biasanya opung selalu terlihat ceria, hangat dan penuh senyum. Namun hari ini opung kelihatan beda banget. Tampak sedih, muram, bahkan saat saya salam dan cium pipinya opung sama sekali tidak sadar. Sedih sekali melihat keadaannya. Semenjak keluar dari rumah sakit beberapa waktu yang lalu opung memang terlihat berbeda. Seolah-olah kebahagiaannya direnggut oleh berbagai penyakit yang menyerang tubuh renta nya itu.

Ditengah-tengah acara tiba-tiba opung minta kesempatan untuk berbicara. Kepada semua anak,cucu,dan cicitnya ia berkeluh kesah tentang sakit yang dirasakan. Namun yang membuat saya terharu karena saat itu di mata nya saya masih melihat semangat yang menyala-nyala. Opung bilang masih ingin sembuh, ingin hidup lebih lama lagi, ingin melihat cicit dari cucu laki-lakinya. Semangat hidup itu yang tidak dimiliki semua orang. Dan semangat itu yang membuat saya sebagai cucunya merasa beruntung memiliki opung dalam hidup saya.